Powered By Blogger

Selasa, 08 Desember 2015

LEZATNYA NASI PENGGEL KHAS KEBUMEN

Alun-alun Kebumen

Indonesia merupakan sebuah Negara yang sangat unik. Keunikan tersebut didapat dari adanya makanan-makanan khas dari berbagai daerah di Indonesia. Disetiap kota atau kabupaten di Indonesia memeiliki makanan khasnya sendiri-sendiri. Bahkan dalam kota atau kabupaten tersebut memiliki makanan khas yang berbeda antara kecamatan yang satu dengan yang lain misalnya. Sebagai contoh makanan khas Indonesia ada masakan bernama Soto. Beberapa daerah memang menjadikan soto sebagai makanan khasnya. Namun berbeda antara satu dengan yang lainnya. Soto Semarang tentu akan berbeda dengan Soto Kudus, Soto Betawi, Soto Banjar, maupun Soto Makassar yang biasa disebut Coto Makassar. Hal yang membeedakannya adalah bahan yang digunakan untuk membuat masakan tersebut. Ada pula makanan khas dari kota kelahiran saya yaitu Jepara. Jepara memiliki beberapa makanan khas salah duanya yaitu pindang srani (masakan ini berbahan dasar ikan) dan horog-horog (tunggu ulasan tentang makanan ini dipostingan saya lain). Selain beberapa makanan tersebut masih banyak makanan lain yang khas dari Indonesia. Salah satunya adalah makanan khas dari Kebumen yaitu Nasi Penggel.

Kali ini saya akan mengulas tentang kenikmatan Nasi Pengggel khas Kebumen yang saya rasa saya ketagihan untuk kembali menikmati kelezatannya.

Ketika berkunjung ke Kebumen beberapa waktu yang lalu untuk mengunjungi rumah nenek saya. Waktu masih sangat pagi ketika saya sampai di Alun-alun Kebumen. Saya kemudian sholat subuh di Masjid Agung Kebumen. Karena rumah nenek saya berada cukup jauh dari Alun-alun Kebumen, saya menyempatkan diri untuk mengelilingi Alun-alun. Namun begitu keluar dari halaman masjid saya melihat beberapa gerobak pedagang kaki lima yang sudah berbaris rapi mengelilingi Alun-alun. Kemudian saya menyebrang menuju Alun-alun. Persis disebrang depan masjid ada seorang bapak-bapak yang menurut saya sudah cukup tua sedang mempersiapkan barang dagangannya tanpa ada seorang pun yang membantunya. Bapak tersebut sedang membuat adonan tempe mendoan (mendoan adalah tempe yang digoreng dengan adonan tepung basah dengan irisan daun bawang dan terasa gurih). Sebenarnya saya tertarik untuk membeli tempe membeli tempe mendoannya karena terasa sangat menggoda dengan tempe yang agak tipis namun lebar dan tentunya masih hangat karena baru digoreng. Saya dan bapak saya pun memutuskan untuk menunggu tempe mendoan hingga matang. Setelah matang saya pun menikmatinya dengan lahap sambil duduk lesehan. Makan satu tempe saja rasanya sudah kenyang.

Bapak penjual tersebut kemudian menawarkan kami sarapan. “itu namanya nasi apa pak ?” tanya Bapakku. “Nasi Penggel pak”, jawab Bapak penjualnya. Lantas kami memesan dua porsi nasi. Ketika Bapak penjual nasi penggel itu menyerahkan piring berisi nasi saya agak terkejut. Saya melihat nasi yang sudah dikepal-kepal berbentuk bulatan diatas piring yang beralaskan daun pisang itu. “sayur dan lauknya ambil sendiri mbak”, katanya kemudian.

Aku masih bingung dengan bentuk nasinya. Kenapa nasinya bentuknya seperti itu. Sebenarnya itu nasi biasa, namun dalam penyajiannya nasi itu dikepal-kepal menjadi bulatan yang tidak begitu besar mungkin seukuran bola pingpong. Jadi seperti makan Onigiri kalau di Jepang karena nasinya yang sama-sama dikepal-kepal. Mungkin seperti makna dari Nasi Penggel itu Nasi yang dikepal-kepal.

Dalam piring tersebut, kemudian diberi alas daun pisang terlebih dahulu baru kemudian diisi sekitar 10 kepal nasi (ini bisa nambah bisa dikurangi sesuai dengan yang diinginkan pembeli). Namun meskipun sebelumnya berbentuk kepalan bulat, nasi tersebut jika akan dimakan dan dicampur kuah dari sayurnya akan kembali seperti nasi biasa bukan berbentuk kepalan lagi. Untuk sayur dan lauknya bebas bisa memilih sendiri. Sayur yang menemani kenikmatan nasi ini adalah seperti sayur lodeh nangka muda atau kadang disebut gori dengan bumbu yang gurih dan campuran daun singkong. Sedangkan untuk lauknya, ada kikil, jeroan sapi seperti limpa, paru, dan semacamnya serta tahu atau tempe yang dimasak seperti opor. Ada pula telur balado yang menjadi favorit saya karena pedasnya. Jadi semuanya masih hangat. Nasi ini sangat cocok dijadikan menu untuk sarapan pagi. Sambil duduk lesehan menikmati Nasi Penggel beserta ubo rampenya dan melihat anak-anak berangkat sekolah dengan menggunakan  sepeda, ahh nikmatnya.

Makanan ini memang sangat sederhana sekali. Seperti menggambarkan kesederhanaan masyarakat Kebumen. Harganya juga menurut saya cukup murah. 3 porsi nasi + sayur + lauk 2 opor jeroan sapi + 1 balado telur + 3 tempe mendoan + 2 teh manis hanya ditebus dengan uang 38 ribu rupiah. Beberapa kali pula saya melihat ada beberapa ibu-ibu yang memebeli hanya sayur dan lauknya saja yang kemudian dibawa pulang untuk menu sarapan keluarganya. Memang cukup terkenal dan lumayan ramai pembeli yang membeli nasi diwarung lesehan ini. Tapi katanya ada pula yang lebih ramai dari tempat ini.

Ahh Nasi Penggel ... aku sangat merindukan kenikmatanmu ...




LOKASI

Alun-alun Kebumen. Persis diseberang mini market sebelah Masjid Agung Kebumen.

Senin, 07 Desember 2015

UNTUK ANNISA .....

Wanita itu bernama Annisa Awalinna. Seperti arti yang terkandung dalam namanya, dia adalah anak perempuan pertama dalam keluarganya. Wanita yang memiliki motto hidup “Man jadda wa jadda : barangsiapa yang bersungguh-sungguh, dia (akan) mendapatkan” itu lahir di Kota Lumpia pada 15 April, 22 tahun yang lalu. Aku memanggilnya Nisa. Nisa merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Saat ini, keluarganya telah pindah ke Semarang. Mengapa saat ini ? karena sebelumnya keluarganya berada di Tangerang. Sedangkan Nisa merantau ke Semarang untuk menuntut ilmu.

Entah tepatnya tanggal berapa aku mengenalnya pertama kali aku pun sudah lupa. Seingatku, kami saling mengenal ketika kami sama-sama bergabung dalam sebuah Unit Kegiatan Kemahasiswaan. UKM Peduli Sosial Universitas Diponegoro lah yang telah mempartemukan kami pada tahun 2013 lalu. Pada tahun itu pula merupakan awal berdirinya UKM Peduli Sosial Universitas Diponegoro. Kami berada dalam satu divisi yang sama yaitu Divisi Komunikasi. Mungkin karena seringnya ketemu karena rapat, atau hanya sekedar kumpul-kumpul, mungkin itu yang mendekatkan kami.

Sebenarnya dulu kami tidak terlalu dekat. Kami hanya pergi bersama atau ketemu kalau kebetulan sedang ada acara UKM atau ada tugas dari UKM yang mempertemukan kita. Karena kami memang bukan satu jurusan. Dia memilih jurusan Hukum sedangkan saya jurusan Administrasi Publik. Padahal fakultas kami sebenarnya sebelahan. Tapi kami jarang ketemu. Mungkin karena kesibukan masing-masing.

Sekarang pun sebenarnya kami jarang ketemu. Karena memang Nisa sudah tidak tinggal di Tembalang. Bersama orang tuanya yang baru pindah ke Semarang yang sebelumnya memang tinggal di Tangerang, mereka menempati rumah di daerah Pedurungan Semarang. Karena jarak yang mungkin cukup jauh yaitu antara Tembalang yang berada di Semarang bagian atas dan Pedurungan yang berada di Semarang bagian bawah kami jadi jarang bisa ketemu. Selain itu juga mungkin karena kesibukan masing-masing dari kami.

Namun sesekali kami menyempatkan untuk ketemuan jika ada waktu luang. Meskipun hanya jalan-jalan, mengunjungi tempat yang bagus kemudian kami foto-foto, makan, atau bahkan Nisa yang datang ke Tembalang. Kalau udah ketemu, mungkin waktu 24 jam sehari terasa sangat kurang. Kami bercerita dan curhat kesana kemari mulai dari cowok, temen, kadang-kadang juga gosip, bahkan sampai ngobrol tentang masa depan. Terkadang kami memang ngobrol tentang masa depan. Sampai ngobrol tentang konsep pernikahan kami masing-masing. Mulai dari dekorasi yang seperti apa, baju yang seperti apa, nanti siapa yang nikah duluan, bahkan sampai bicarain tentang jodoh. Pokoknya pesanku ya Nis, nanti kalau kamu nikah duluan harus aku yang jadi bridesmaidnya. Terkadang Nisa juga mengirimkan gambar-gambar tentang jodoh tentang apapun ke aku melalui WhatsApp karena kadang aku suka mengeluh sedang galau.

Dengan tulisan ini aku hanya ingin mengucapkan terima kasih untukmu, Nis. Terima kasih buat waktu dan perhatianmu. Meskipun kita belum lama kenal aku merasa nyaman bila cerita apapun sama kamu. Kamu pun selalu sabar untuk mendengarkan semua ceritaku dan semua keluh kesahku. Terima kasih untuk bahumu, terima kasih untuk waktumu, terima kasih untuk nasehat-nasehatmu.

Maaf aku nggak bisa ngasih apapun selain ucapan terima kasih. Maaf kalau aku sering merepotkan. Aku berharap persahabatan kita bisa selamanya. Tetap jadi Nisa yang aku kenal. Nisa yang santun, Nisa yang baik, Nisa si pendengar yang hebat, Nisa yang peduli sama temen, Nisa yang segalanya. Makasih Nis buat perhatianmu selama ini. Maaf aku nggak bisa balas semuanya. Tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi teman yang baik sepertimu.

Mungkin 5 atau 10 tahun lagi ketika kita kembali baca tulisan ini atau mengingat kenangan-kenangan yang mengisis hari-hari kita, kita akan tertawa-tawa sendiri ya Nis hahaha

Semoga apa yang kita cita-citakan semuanya tercapai ya nis .... Amin



Nis ... Aku ada sesuatu buat kamu ... hanya sebuah coretan sih sebenarnya :) Lihat foto dibawah yaaaa :D
Sajak Untuk Nisa

Rabu, 25 November 2015

Mungkin ... KAMI MEMANG (BELUM) BERJODOH


Program Menyapa Negeriku adalah sebuah Program dari Ditjen DIKTI yang memberikan kesempatan bagi warga negara Indonesia yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia khususnya di daerah pedalaman.

Saya sangat tertarik dengan program ini. Kapan lagi bisa menjelajah Indonesia dengan membawa misi yang sangat mulia menurut saya dan tentunya gratis. Kemarin waktu mendaftar pun saya memilih daerah Sumba Timur karena saya sangat tertarik dengan keeksotisan yang dimiliki daerah itu. Saya pun meminta beberapa pendapat tentang program ini kepada orang tua serta teman-teman. Lalu saya pun akhirnya mendaftarkan diri. Saya mulai mengisi formulir. Setelah selesai, formulir yang tadinta hanya 1 lembar itu jadi 5 lembar. Karena didalamnya disuruh menuliskan pengalaman, pandangan kita tentang pendidikan di Inonesia, dan lain-lain. Sebenarnya 5 lembar itu masih sangat singkat menurutku.

Ahh ... Saya sangat berharap untuk bisa lolos program ini. Namun Allah berkehendak lain.Kemarin, pada tanggal 21 November 2015 saya membaca pengumuman itu. Seketika itu runtuhlah harapan saya .... rencana-rencana yang sudah saya persiapkan apabila saya bisa lolos seakan akan mulai berpamitan dari pikiran saya. Yaahhh ... sepertinya KAMI MEMANG (BELUM) BERJODOH ...

Kecewa ? Itu sudah pasti. Sedih ? Sangat sedih ... Tapi mau bagaimana lagi ... mungkin Allah punya rencana lebih indah untuk saya dibalik semua ini. Mencoba untuk mengikhlaskan meskipun sedikit berat. Beberapa kawan juga menyarankan untuk mengikhlaskannya saja .... makasih yaa Mas Iki Mazadi, Bu Umi Bu'Dhe Nya Pa'DheAnnisa AwalinnaKhoiriyah Sari buat nasehat-nasehat kalian yang sangat menentramkan hati *eaaa

Yaah mungkin memang bukan hanya saya saja yang kecewa ... dari 47.523 pendaftar hanya 44 orang yang berhasil lolos. Buat kalian yang lolos, selamat yaa ... kalian hebat ! Semoga kalian semua dapat pula mewakili dan mewujudkan harapan-harapan kami semua Bangsa Indonesia .... Selamat bertugas ... Salam hangat untuk saudara-saudara kami disana ....

Mungkin saya memang belum berjodoh dengan program ini. Mungkin saya harus lebih memperbaiki diri. Dan mungkin memang benar kata seorang kawan. saya mending menyelesaikan prioritas utama saya disini terlebih dahulu. Dan tentunya memperbaiki niat. Karena sebenarnya juga masih terlintas niat yang jelek dibenak saya yaitu INGIN SEKALIAN JALAN-JALAN -____-

Semoga di lain waktu ada program serupa. Agar saya memiliki kesempatan untuk menjamah Indonesia 

Selamat berjuang teman-teman .....




PENJUAL KEINDAHAN DIJALAN

Kepada Bapak-Bapak Penjual Bunga Keliling ....

Kemarin, sewaktu dijalan akan menjemput seorang kawan ... aku kembali menjumpai si penjual itu .... ahh lumayaan ... segar sekali melihat dagangan yang dibawanya ... sengaja aku pelankan laju motorku agar tetap bisa berada dibelakangnya ... Karena saya memang sangat menyukai keindahan bunga *inibukankodebiardikasihbunga

Aku menyebutnya sebagai TAMAN BUNGA BERJALAN

Dengan wajah yang letih, beliau terus menarik gerobak bunganya yang kurasa cukup berat itu sambil berharap ada yang membeli dagangannya. Dalam sehari belum tentu ada orang yang mau membeli. Jangankan sehari, satu minggu pun entah ada 5 orang yang membeli atau bahkan tidak ada satu pun ..... Kasihan juga melihatnya. Jika tidak dapat uang hari itu, anak istrinya dirumah makan apa ?
Mungkin harapannya setiap hari hanya ... Semoga ada pembeli ...
Namun begitu, menurut saya bapak-bapak itu sudah bersedekah setiap hari .... Yaah melalui dagangan yang dibawanya, membuat orang lain menjadi senang karena bisa melihat keindahan bunga-bunganya.


Dalam hati, sebenarnya saya ingin membeli. Tapi takut bunganya layu kemudian mati. Mengingat disini saya tidak tinggal dirumah sendiri dan kadang suka pulang kampung sedikit lama jadi takutnya nggak ada yang merawat bunga itu. Daripada saya beli tapi malah nggak bisa merawat lebih baik bunga itu ada pada penjualnya seenggaknya ada yang masih merawatnya biar subur. Selain menjual bunga, beliau juga menjual pupuk.


Tetap sehat ya Pak Bunga .... biar bisa tetap mencari nafkah untuk keluarga dirumah, tetap memberikan keindahan kepada semua orang dan bisa merawat dagangan agar tumbuh subur sehingga banyak orang yang tambah tertarik. Semoga dagangannya laris ... Amin
Terima Kasih sudah memanjakan mata saya dengan keindahan bunga-bungamu Pak Bunga ...


Dokumen Pribadi

Dokumen Pribadi


Dokumen Pribadi

Kamis, 12 November 2015

(BUKAN) MAHASISWA KADALUARSA


Entah apa yang ada dipikiranku hingga menulis ini ...

Entah apa pula perasaan yang aku rasakan ketika menulis ini ...

Untuk sebagian mahasiswa yang memang “belum” lulus namun sudah banyak teman seangkatannya yang udah pada lulus tentu sering sekali mendengar pertanyaan dari entah teman, saudara, adik kelas mungkin, orang tua bahkan atau yang lainnya seperti ini :

“kapan lulus?”

“skripsi udah selesai?”

“kapan wisuda?”

Atau mungkin yang paling menyakitkan adalah seperti ini “

“cieee .... mahasiswa kadaluarsa nih”

“kamu mau jadi mahasiswa bangkotan disini ?”

Mungkin pernyataan dan pertanyaan tadi memang sangat bikin sakit hati. Bayangkan saja, kita sudah pusing mengerjakan skripsi tapi masih ada saja orang yang berkata seperti itu kepada kita.

Bagi sebagian orang sebenarnya menganggap pertanyaan itu adalah hal yang sepele. Tapi, kan tidak semua orang bisa menyepelekan pertanyaan dan pernyataan itu. Bahkan ada orang yang dalam hal ini adalah mahasiswa agak takut jika ada kenalannya yang kebetulan ketemu dijalan atau dikampus menanyakan hal tersebut sehingga mermbuatnya takut bahkan malas untuk pergi kemana-mana.

Saya pribadi juga sebenarnya kurang terlalau nyaman dengan pernyataan ataupun pertanyaan yang seperti itu. Namun saya menganggapnya biasa saja. Karena itulah salah satu sifat manusia. Ketika masih jadi mahasiswa pasti ditanyain, “pacar mana ?” atau “kapan lulus?” Nanti ketika udah lulus ditanyain “kapan kerja?”. Kalau udah kerja pasti ditanyain, “kapan nikah?”. Dan ketika udah nikah pun kembali ada pertanyaan, “kapan nyusul punya momongan?”. Setelah punya anak pun belum berhenti mendapatkan pertanyaan yaitu, “kapan punya cucu ?” hehehe dan yang sebenarnya masih ada pertanyaaan terakhir namun tidak pernah ditanyakan atau lebih tepatnya orang lain tidak berani menanyakan kepada kita yaitu “kapan mati ?” hehe

Saya bukannya menunda kelulusan atau apa. Saya pengen cepet lulus. Saya iri melihat teman-teman yang seangkatan sama saya yang sudah lulus duluan. Lagipula, tuntutan dari orang tua untuk segera lulus juga sering sekali saya dengar ketika saya pulang ke kampung halaman. Saya juga merasa kesihan dan tidak enak hati kepada mereka karena setiap bulan masih saja meminta uang bulanan karena saya yang masih belum lulus ini. Namun apa daya. Tuhan berkehendak lain. Mungkin saya yang terkadang masih malas untuk mengerjakan skripsi atau entah ada alasan yang lain sehingga kelulusan saya sedikit tertunda. Bukan tertunda sih sebenarnya. Toh saya juga angkatan 2011 jadi sebenarnya memang tahun ini jatah saya lulus jika saya menyelesaikan pendidikan selama 4 tahun di universitas. Saya pun berjanji terutama kepada kedua orang tua saya bahwa SAYA AKAN LULUS SECEPATNYA BIAR SEGERA BISA MEMBAHAGIAKAN MEREKA.

Jadi ..... Kembali saya tegaskan .... tidak ada yang namanya MAHASISWA KADALUARSA

Kami mahasiswa yang seharusnya sudah lulus namun belum juga lulus pasti memiliki alasan yang menyebabkan kami belum lulus.


Senin, 19 Oktober 2015

KAIN PENUTUP KEPALA ITU BERNAMA JILBAB

Sebagai seorang muslim terutama muslimah, kita harus menutup aurat kita. Batas aurat seorang muslimah adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.
Jilbab atau kerudung merupakan salah satu benda atau apa ya menyebutnya ? yang dapat digunakan dan dianjurkan untuk menutup aurat. Untuk penutup kepala ini, banyak sekali jenisnya ada yang pashmina, jilbab segi empat, jilbab segi tiga, bahkan ada yang jilbab praktis begitu saya menyebutnya. Bahan-bahan untuk membuatnya pun beragam dari mulai kain chiffon, kain katun, kain paris, kain satin dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan model pemakaiannya pun sangat beragam dan berbagai bentuk mengikuti perkembangan jaman yang bahkan sekarang pun telah banyak bertebaran tutorial pemakaian jilbab di sosial media.
Tapi disini, saya tidak akan membahas tentang macam-macam jilbab, bahan pembuatan jilbab, maupun tutorial pemakaian jilbab. Disini saya akan menceritakan tentang SAYA DAN JILBAB.
Saya adalah seorang wanita muslim yang tidak berjilbab. Lebih tepatnya belum berjilbab. Bahkan saya pun kalah dengan adik kandung saya sendiri. Dia mulai masuk SMA telah memilih untuk mengenakan jilbab. Sedangkan saya, sampai umur saya mencapai kepala dua belum memutuskan untuk menutup aurat saya. Mengapa bisa begitu ? jujur sebenarnya saya ingin sekali mengenakan jilbab namun masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hati saya. Saya rasa, saya belum pantas untuk mengenakannya bila kelakuan-kelakuan saya yang masih belum baik belum saya perbaiki. Saya takut ketika saya sudah mengenakan jilbab namun ada kesalahan yang saya lakukan saya takut orang lain akan menganggap jilbab saya hanya semata untuk gaya-gayaan saja atau untuk menutupi kelakuan saya saja. Sebenarnya ada beberapa orang merasa terpukau dan kagum ketika melihat saya memakai jilbab. Kata mereka, aku cantik kalau berjilbab hehehe ini saya bukan bermaksud sombong atau gimana ya ... tapi meskipun banyak yang bilang saya cantik kalau berjilbab namun tetap saja hal tersebut belum bisa mengguncang hati saya.
Terkadang saya iri melihat wanita-wanita muslim diluar sana, yang kebanyakan mereka adalah teman saya maupun yang belum saya kenal. Mereka sudah bisa dan terbiasa untuk mengenakan jilbab. Ketika saya melihat teman saya atau orang yang saya kenal mengenakan jilbab, kadang saya menanyakan beberapa hal kepada mereka. Sejak kapan mereka memakai jilbab ? mengapa mereka memakai jilbab ? dan saya pun terkadang melihat kelakuan mereka sehari-hari apakah sudah sesuaikah perilakunya sebagai seorang wanita muslimah yang berjilbab. Tentu dari pertanyaan-pertanyaan itu ada yang menjawab sangat lucu dan ada pula yang menjawab sangat bijaksana. Namun meskipun mereka memakai jilbab dengan alasan apapun, mereka masih lebih baik daripada saya karena mereka telah berani dan bersedia untuk menutup aurat mereka. Daripada saya, yang sampai sekarang belum mengenakan jilbab. Saya mengenakan jilbab ketika saya hendak mengikuti pengajian atau acara apa yang memang diharuskan mengenakan jilbab.
Terkadang pula, saya merasa malu jika berpapasan dengan teman saya yang bahkan dulu dia tidak berjilbab namun sekarang telah memutuskan untuk mengenakan jilbab. Sungguh beruntung sekali mereka yang telah mendapatkan hidayah dari Allah begitu batin saya. Saya terkadang memikirkan kapan saya akan berjilbab. Saya pun tahu pertanyaan itu adalah pertanyaan yang jawabannya ada pada diri saya sendiri.
Kapan ? Kapan ? Kapan ? Kapan aku memakai jilbab ? Pertanyaan itu yang selalu berputar-putar dipikiranku.
Kalau lulus kuliah ?
Kalau kerja ?
Kalau sudah menikah ? ahh kelamaan ....
Tapi nggak apa-apa .... insya Allah ketika aku telah menikah, aku akan mengenakan jilbab. Karena juga ketika itu saya sudah bersuami maka sudah sepantasnya pula untuk menutup aurat. Meskipun itu masih terlalu lama. Saya akan mencoba memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum berjilbab.
Pernah ada seorang teman yang mengatakan “kamu nazar aja ... kalau misalnya skripsimu selesai, sidangmu lancar, dan kamu lulus kuliah kamu nazar akan mengenakan jilbab” hahaha Aku lalu memikirkan kata-katanya. Apa aku melakukan yang dia katakan saja ya ? namun setelah lama aku pikirkan kata-kata itu, sepertinya aku tidak ingin mengenakan jilbab karena nazar. Aku ingin benar-benar siap lahir dan batin berjilbab. Benar-benar dari dalam hati yang paling dalam.

Semoga Allah memaafkan saya yang sampai saat ini belum mengenakan jilbab dan segera membuka hati saya. Yang entah kapan saya pun tidak tahu.




Itu beberapa foto ketika saya mengenakan jilbab :) narsis dikit yaaa :)

SURAT UNTUK PRESIDEN

Kepada Yang Terhormat Presidenku Bp. Ir. H Joko Widodo ...

Saya menyebut ini adalah Surat Untuk Presiden. Dalam surat  ini, saya ingin menyampaikan perasaan saya tentang musibah asap yang menimpa saudara-saudara saya sesama manusia dan sesama bangsa Indonesia di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Mungkin saya memang bukanlah orang yang merasakan secara langsung dampak asap yang terjadi di Pulau Sumatra maupun Kalimantan, karena saya memang tidak tinggal di Sumatra ataupun Kalimantan. Tapi saya adalah Orang Indonesia dan saya sangat sedih melihat saudara sebangsa saya menderita.

Pak Jokowi Presiden kami, disini saya pun sangat menyadari bahwa Bapak tidak akan membaca ini. Saya sadar bahwa banyak tugas bapak yang lebih penting daripada hanya membaca keluh kesah saya yang hanya rakyat biasa ini dan bukan orang hebat ataupun orang terpandang di Negeri yang indah ini. Namun, saya sudah tidak tahu lagi mau berkeluh kesah pada siapa melihat betapa menderitanya saudara-saudara sebangsa saya akibat bencana itu. Berkeluh kesah sama Allah ? itu memang harus. Namun, bukankah Allah memerintahkan umatNya untuk berusaha terlebih dahulu baru kemudian menyerahkan sepenuhnya kepadaNya ? Saya hanya bisa berkeluh kesah melalui tulisan ini pak. Karena sangat tidak memungkinkan bagi saya untuk berkunjung ke Istana Negara kemudian mencari Pak Presiden. Mungkin jika hal tersebut saya lakukan, saya sudah diusir terlebih dahulu didepan gerbang masuk Istana Negara. Saya berkeluh kesah kepada Bapak karena mungkin di Negara ini Presiden memiliki kuasa yang sangat besar untuk berbuat sesuatu yang dapat menghentikan bencana kabut asap tersebut meskipun ini bukan salah bapak. Bapak Presiden dapat meminta bantuan menteri-menteri terkait atau bantuan dari pihak lain untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kabut asap yang menimpa saudara-saudara kita semua disana. Saya tidak dapat berbuat apapun. Karena saya hanyalah seorang mahasiswa yang mungkin belum bisa membantu sepenuhnya karena saya memang belum memiliki penghasilan. Saya disini hanya dapat membantu dengan doa yang tulus dan membantu sedikit bila ada kegiatan sosial dikampus untuk membantu mereka korban bencana kabut asap dengan menyisihkan sedikit dari uang saku saya dan saya pikir itu belum dapat membantu.

Pak Jokowi ... tolonglah mereka pak. Lihatlah pak .... lihatlah anak-anak kecil disana. Bukankah pagi hari adalah waktu bagi mereka untuk berangkat sekolah bersama teman-teman mereka dengan hati yang riang gembira dan sore hari yang seharusnya mereka habiskan untuk bermain diluar rumah. Namun sekarang akibat adanya asap itu mereka seakan-akan takut untuk keluar rumah. Tidak jarang pula pihak sekolah meliburkan murid-muridnya karena asap yang menebal. Lantas bagaimana nasib siswa-siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional jika sekolah sering libur karena asap yang menebal? Melihat dari berita di media elektronik saya pun bisa merasakan betapa menderitanya mereka semua. Gelap sekali disana. Bahkan sinar matahari pun telah terkalahkan oleh pekatnya kabut asap.
Lihatlah orang tua disana pak ... bukankah mereka seharusnya mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarganya ? namun karena kabut asap itu pekerjaan mereka jadi terganggu. Mau diberi makan apa keluarganya nanti ? mau bekerja didalam rumah ? bahkan asap itu pun sudah masuk kedalam rumah.

Lihatlah pak sudah berapa jiwa yang menjadi korban karena bencana ini. Anak-anak balita banyak yang terkena gangguan pernapasan. Bahkan beberapa sudah ada yang meninggal. Nyawa mereka sia-sia karena asap.

Pak Jokowi, saya tahu bencana kabut asap ini bukanlah kesalahan Bapak dan saya pun tidak akan menyalahkan Pemerintah karena ini memang bukan kesalahan pemerintah. Namun dalam hal ini, Pemerintah seharusnya melakukan sesuatu.

Pak Jokowi, saya pun tahu kalau secara pribadi Bapak juga sedang memikirkan bagaimana solusi yang dapat digunakan untuk menghentikan semua ini. Tapi pada jabatan yang telah Bapak miliki saat ini, Bapak memiliki orang-orang yang dapat membantu Bapak untuk menyelesaikan semua ini. Mungkin dalam hal ini menghentikan untuk selama-lamanya dan tidak ada lagi bencana kabut asap. Menurut saya, dengan cara mencari siapa pelaku pembakaran lahan itu dan secara TEGAS memberikan hukuman dengan seberat-beratnya karena kesalahan yang telah mereka perbuat.

Namun untuk mencari pelakunya pun saya mengetahui pasti membutuhkan waktu yang sangat lama. Tidak mudah memang untuk menetukan siapa pelakunya. Namun sebaiknya pemerintah dapat bertindak dengan cepat untuk menolong korban-korban bencana asap ini. Berikan apa yang mereka butuhkan. Seperti obat-obatan mungkin, dokter-dokter ahli, pengobatan gratis, atau masker pelindung agar asap tidak terhirup. Saya tahu, pemerintah setempat bahkan pemerintah pusat telah memberikan itu semua. Namun ketahuilah pak .... ketika saya melihat di berita televisi yang dibagikan kebanyakan adalah masker medis bukan masker khusus untuk asap. Entah bantuan masker dari siapa itu, namun kebanyakan yang saya lihat memang bukan masker yang seharusnya untuk asap. Berikan mereka masker yang seharusnya. Setidaknya untuk memperpanjang umur mereka. Ada sebuah masker yang namanya masker N95 (maaf ini bukan maksud untuk promosi). Namun masker N95 itu bukanlah masker yang paling baik karena masih ada masker yang khusus untuk asap yang lebih baik dari masker N95 tersebut. Namun setidaknya, meskipun bukan yang paling baik tapi sedikit bisa menolong mereka pak ... Himbaulah pemerintah daerah setempat untuk memberikan masker yang sesuai untuk asap.

Masker N95

Itu adalah masker N95 untuk asap. Saya mengambil gambar itu dari Google.com namun itu masih belum maksimal untuk mencegah asap terhirup.

Bantulah mereka pak .... pikirkan masa depan mereka dan masa depan Bangsa Indonesia

#MELAWANASAP